Selasa, 03 Agustus 2010

Lalu lintas udara Indonesia di Kepulauan Riau masih dalam kontrol Singapura


TANJUNGPINANG--Lalu lintas udara Indonesia di Kepulauan Riau masih dalam kontrol Singapura karena perjanjian internasional pada masa lalu, kata Panglima Komando Operasi TNI AU I, Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto, di Tanjungpinang, Jumat.

"Memang benar masih ada wilayah udara Indonesia yang dikontrol Singapura. Itu akibat suatu perjanjian yang masih mengikat," katanya setelah pelantikan Komandan Pangkalan Utama TNI AU Tanjungpinang, Letnan Kolonel Pnb Andi M Amran.
.
Menurutnya, sebenarnya untuk kepentingan pertahanan udara dalam negeri, Indonesia mampu mengontrol seluruhnya tanpa harus oleh Singapura. "Kami akan terus membicarakan agar bisa diatur sendiri," ujar Eddy. Lalu lintas penerbangan dalam negeri di Kepri sampai saat ini masih bergantung pada petugas menara pengendali lalu lintas Singapura.

Sementara itu, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia berdaulat penuh dan eksklusif atas wilayah udara Republik Indonesia.

Pasal 6 UU No 1/2009 menyebutkan, dalam rangka penyelenggaraan kedaulatan negara atas wilayah udara NKRI, pemerintah melaksanakan wewenang dan tanggung jawab pengaturan ruang udara untuk kepentingan penerbangan, perekonomian nasional, pertahanan dan keamanan negara, sosial budaya, serta lingkungan udara.

"Kami berharap kita bisa mengatur wilayah udara kita sendiri untuk kepentingan pertahanan keamanan negara," harap Pangkoops TNI AU I.

Sumber: ant

Lanud Tanjungpinang Himpun 32 Kantong Darah

Senin, 26 Juli 2010 20:53 WIB | Kesra | Dibaca 16 kali
Oleh: Henky Mohari
Tanjungpinang (ANTARA News) - Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Tanjungpinang, Kepulauan Riau menghimpun darah dalam 32 kantong dari donor terkait peringatan Hari Bakti ke-63 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara.

"Setelah pengecekan kesehatan 47 orang pendaftar, hanya 32 orang yang bisa menyumbangkan darah," kata Kepala Penerangan Lanud Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, setelah mendonorkan darahnya di Poliklinik TNI AU Tanjungpinang, Senin 26 Juli 2010.

Wardoyo mengatakan, darah yang telah dihimpun akan dijadikan stok Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Tanjungpinang.

"Bakti sosial ini sebagai wujud kepedulian TNI AU untuk kepentingan masyarakat," ujarnya.

Peserta aksi donor darah, bukan hanya prajurit TNI AU melainkan juga dari Polresta Tanjungpinang, TNI AD, TNI AL dan masyarakat umum.

Hari Bakti TNI AU ke-63 di Lanud Tanjungpinang, akan pula ditandai dengan ziarah ke makam pahlawan pada 28 Juli 2010.

"Puncak peringatan hari bakti 29 Juli 2010 di Markas Lanud Tanjungpinang," katanya. (Btm1)

COPYRIGHT © 2010

Dan Penghijauan berlangsung Sukses.



Author: Adi Pranadipa

30 Jul

Penghijauan yang dilaksanakan oleh Bintan Island Blogger Community yang didukung oleh beberapa Sponsor seperti Pemko Tanjungpinang dalam hal penyediaan Bibit Pohon berlangsung dengan baik, walau dilaksanakan dibawah curahan hujan. Sedianya Ibu Walikota akan menghadiri acara tersebut, namun dikarenakan ada sesuatu dan lain hal beliau diwakili oleh Bapak Asisten III Drs. Pok Yong Kadir. 100 Bibit Jatiputih dan Lamtoro yang akan ditanam merupakan hibah dari Pemko Tanjungpinang melalui Dinas Kelautan Pertanian Kehutanan dan Energi (KP2KE). Acara ini dihadiri juga dihadiri oleh ibu R. Syahniar, Anggota DPRD Provinsi Kepri yang juga anggota Bibcom dan Kepala Dinas KP2KE, Sudjarwoto, dan Undangan dari Angkatan Udara Tanjungpinang, tak lupa juga anak-nanak sekolah Menengah Atas, SMA Negeri dan SMK Negeri 4. Berikut Foto2 Kegiatan tersebut:

TNI AU Gelar Patroli Gabungan

TNI AU Gelar Patroli Gabungan
Senin, 19 July 2010 00:29

TANJUNGPINANG- Jajaran TNI Angakatan Udara (AU) Indonesia bersama tiga angkatan bersenjata negara tetangga (Malaysia, Singapura dan Thailand) menggelar patroli gabungan di perbatasan selat Malaka dan Singapura, baik di laut maupun udara.

Tujuan kegiatan tersebut untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri, melalui kerjasama Eyes In The Skies (EIS). Selain itu, juga untuk meningkatkan dan mempererat hubungan regional antar negara yang telah dilakukan sejak beberapa tahun silam.

Kegiatan itu dilakukan sejak 16 hingga 18 Juli 2010 dengan melibatkan pesawat Patroli Maritim atau Maritim Patrol Aircraft (MPA) dari masing-masing negara.

Pejabat Sementara Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pengkalan TNI AU Tanjungpinang, Letu (Lek) Wardoyo mengatakan, kerjasama EIS merupakan suatu sistem terbuka dengan persetujuan yang telah sepakati ketiga negara tetangga tersebut dalam rangka menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan masing-masing negara.

“ Dalam hal ini tidak tertutup kemungkinan negara lain yang ingin berpartisipasi dapat pula bergabung di dalamnya, sesuai persetujuan dan izin dari ketiga negara tetangga tersebut nantinya,” ucap Wardoyo didampingi Kapten Pilot (Pnb) Muhammad Arif , Sabtu (18/7).

Disebutkan, pelaksanaan kegiatan tersebut, masing-masing penerbangan pesawat ketiga negara membawa Combined Miision Patroli Team (CMPT) di pesawat yang terdiri dari Misiomn Commander dan Eis tim, dan CMPT harus menghadiri Pre-fligh dan Post-fight brief.

“Masing-masing negara peserta membawa sebanyak 2 personel dalam pembentukan tim tersebut,” ujar Wardoyo (sm/fl).

Operasi EiS di Selat Malaka dan Singapura

Internasional / Minggu, 18 Juli 2010 22:49 WIB

Metrotvnews.com, Tanjungpinang: TNI Angkatan Udara bersama dengan Angkatan Udara Malaysia, Singapura, dan Thailand melakukan operasi "Eyes in the Sky" di Selat Malaka dan Singapura.

Kapten Pilot pesawat Cassa TNI AU, Kapten Penerbang Muhammad Arif di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Ahad (18/7), mengatakan operasi pengamanan wilayah udara dan laut di jalur perdagangan tersibuk di dunia itu merupakan patroli regional dalam rangka mempererat hubungan negara tetangga dalam hal pertahanan dan keamanan.

"Di bawah program EiS ini negara peserta akan melaksanakan pesawat patroli maritim (maritime patrol aircraft/MPA) untuk melaksanakan patroli di Selat Malaka dan Singapura sebagai bagian dari usaha untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri," ujarnya.

Menurut dia, operasi "Eyes in the Sky" (EiS) sejak 2005 tersebut dilaksanakan dari 16 sampai 18 Juli 2010. Operasi tersebut tidak berprasangka kepada posisi dari seluruh negara yang terkait ke semua area yang sedang dipersengketakan atau yang belum ada batasnya.

"Area dari operasi ini akan mencakup internasional dan nasional wilayah udara di atas perairan dari Selat Malaka dan Singapura," katanya menegaskan.

Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan TNI AU Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, mengatakan EiS merupakan sistem pengaturan terbuka dengan persetujuan dari tiga negara daerah pesisir, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

"Beberapa negara lain dapat diundang untuk berpartisipasi dengan dasar suka rela dengan persetujuan dan izin dari ketiga negara tersebut," ujar Wardoyo.

Menurut dia, negara peserta akan menyediakan berturut-turut aset udara untuk melaksanakan operasi yang harus dilengkapi dengan benar.

"Pusat operasi EiS bertanggung jawab kepada jadwal dari penerbangan atau `observer` dan menyebarkan informasi ini ke masing-masing negara yang bersangkutan," katanya menambahkan.(Ant/BEY)

TNI AU Laksanakan Operasi "Eis"

Ditulis Oleh Antara, 18 Juli 2010
Tanjungpinang (ANTARA News) - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara bersama dengan Angkatan Udara Malaysia, Singapura, dan Thailand melakukan operasi "Eyes in the Sky" di Selat Malaka dan Singapura.

Kapten Pilot pesawat cassa TNI AU, Kapten Pnb Muhammad Arif di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Minggu, mengatakan operasi pengamanan wilayah udara dan laut di jalur perdagangan tersibuk di dunia itu merupakan patroli regional dalam rangka mempererat hubungan negara tetangga dalam hal pertahanan dan keamanan.

"Di bawah program EiS ini negara peserta akan melaksanakan pesawat patroli maritim (maritime patrol aircraft/MPA) untuk melaksanakan patroli di Selat Malaka dan Singapura sebagai bagian dari usaha untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri," ujarnya.

Menurut dia, operasi "Eyes in the Sky" (EiS) sejak 2005 tersebut dilaksanakan dari 16 sampai 18 Juli 2010.

Operasi tersebut menurut dia, tidak berprasangka kepada posisi dari seluruh negara yang terkait ke semua area yang sedang dipersengketakan atau yang belum ada batasnya.

"Area dari operasi ini akan mencakup internasional dan nasional wilayah udara di atas perairan dari Selat Malaka dan Singapura," katanya menegaskan.

Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan TNI AU Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, mengatakan EiS merupakan sistem pengaturan terbuka dengan persetujuan dari tiga negara daerah pesisir, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

"Beberapa negara lain dapat diundang untuk berpartisipasi dengan dasar sukarela dengan persetujuan dan izin dari ketiga negara tersebut," ujar Wardoyo.

Menurut dia, negara peserta akan menyediakan berturut-turut aset udara untuk melaksanakan operasi yang harus dilengkapi dengan benar.

"Pusat operasi EiS bertanggung jawab kepada jadwal dari penerbangan atau `observer` dan menyebarkan informasi ini ke masing-masing negara yang bersangkutan," katanya menambahkan. (ANT029/D007)


© 2010 IDSPS, Institute for Defense Security and Peace Studies

Operasi Eyes In The Sky

Monday, 19 July 2010 10:46

TANJUNGPINANG :

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara bersama dengan Angkatan Udara Malaysia, Singapura, dan Thailand melakukan operasi "Eyes in the Sky" di Selat Malaka dan Singapura.

Kapten Pilot pesawat cassa TNI AU, Kapten Pnb Muhammad Arif di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Minggu, mengatakan operasi pengamanan wilayah udara dan laut di jalur perdagangan tersibuk di dunia itu merupakan patroli regional dalam rangka mempererat hubungan negara tetangga dalam hal pertahanan dan keamanan.

"Di bawah program EiS ini negara peserta akan melaksanakan pesawat patroli maritim (maritime patrol aircraft/MPA) untuk melaksanakan patroli di Selat Malaka dan Singapura sebagai bagian dari usaha untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri," ujarnya. Menurut dia, operasi "Eyes in the Sky" (EiS) sejak 2005 tersebut dilaksanakan dari 16 sampai 18 Juli 2010.

Operasi tersebut menurut dia, tidak berprasangka kepada posisi dari seluruh negara yang terkait ke semua area yang sedang dipersengketakan atau yang belum ada batasnya.

"Area dari operasi ini akan mencakup internasional dan nasional wilayah udara di atas perairan dari Selat Malaka dan Singapura," katanya menegaskan.

Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan TNI AU Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, mengatakan EiS merupakan sistem pengaturan terbuka dengan persetujuan dari tiga negara daerah pesisir, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

"Beberapa negara lain dapat diundang untuk berpartisipasi dengan dasar sukarela dengan persetujuan dan izin dari ketiga negara tersebut," ujar Wardoyo.

Menurut dia, negara peserta akan menyediakan berturut-turut aset udara untuk melaksanakan operasi yang harus dilengkapi dengan benar.

"Pusat operasi EiS bertanggung jawab kepada jadwal dari penerbangan atau `observer` dan menyebarkan informasi ini ke masing-masing negara yang bersangkutan," katanya menambahkan.



(ANT029/RS)